RSS Feed

Cerita Natal – Kericuhan di Rumah Penginapan

Wallace Purling, biasa dipanggil Wally, adalah seorang bocah yang tinggal di sebuah kota kecil di Midwest, Inggris. Umurnya saat itu sembilan tahun dan duduk di kelas dua, meskipun dia seharusnya sudah duduk di kelas empat. Hampir semua orang di kota itu tahu bahwa dia mempunyai kesulitan dalam mengimbangi teman – teman sebayanya.


Ia bertubuh besar canggung, lambat bergerak dan berpikir. Meskipun begitu, Wally disukai oleh teman – teman sekelasnya yang rata – rata berbadan lebih kecil daripada Wally. Tapi anak laki – laki sering tidak dapat menyembunyikan kejengkelannya apabila Wally ingin ikut bermain bola bersama mereka. Demikian pula dalam permainan apa saja yang lain karena dalam hal ini yang penting bagi mereka dalam bermain adalah meraih kemenangan. Tetapi mereka sering menemukan cara untuk menghindarkan Wally untuk terlibat. Meskupun begitu, Wally tetap menunggu di sekitar situ. Ia sama sekali tidak merajuk, hanya berharap. Wally selalu menolong, tulus hati dan suka tersenyum, tetapi anehnya ia selalu melindungi teman – temannya yang lemah. Apabila ada anak laki – laki yang lebih tua mengusir anak – anak yang lebih muda, pasti Wally akan membela, “Tidak bisakah mereka dibiarkan bermain ? Mereka tidak mengganggu”.

Wally berangan – angan menjadi seorang gembala yang memainkan seruling dalam sandiwara Natal tahun ini, tetapi sutradara pertunjukan, Nona Lumbard, memberinya peran yang justru lebih penting, yaitu menjadi pemilik rumah penginapan. Menurutnya, kalimat yang diucapkan penjaga penginapan tidak terlalu banyak, lagi pula badan Wally yang besar akan membuat penolakan terhadap Yusuf tampak lebih mantap.

Dan begitulah, seperti biasanya banyak orang berdatangan, para penonton yang ingin menyaksikan sandiwara Natal yang megah yang diselenggarakan setiap tahun, tongkat gembala, suasana pada waktu kelahiran Yesus, orang – orang berjanggut, mahkota orang – orang majus, lingkaran cahaya malaikat, dan suara yang nyaring memenuhi panggung pertunjukan. Pada malam itu, tidak ada seorang pun yang lebih terpesona dari Wallace Purling. Belakangan orang – orang bercerita bahwa Wally berdiri di sisi panggung dan benar – benar hanyut dalam pertunjukan yang sedang berlangsung sehingga beberapa kali Nona Lumbard harus memastikan bahwa ia tidak naik ke panggung sebelum waktunya.
Lalu tibalah saatnya Yusuf muncul, berjalan perlahan – lahan, dengan lembut menuntun Maria ke depan pintu penginapan. Yusuf mengetuk dengan kuat pintu kayu yang ditaruh di latar belakang panggung yang dicat. Wally, penjaga penginapan, sudah siap di balik pintu.

“Apa yang kalian cari ?!”, tanya Wally sambil membuka pintu dengan gerakan kasar.

“Kami mencari penginapan”

“Cari saja di tempat lain !”, Wally menatap lurus ke depan dan berbicara dengan suara keras. “Penginapan ini sudah penuh !”.

“Tuan, kami sudah mencari – cari di tempat yang lain, tetapi sia – sia. Kami sudah jauh bepergian dan sangat lelah”.

“Tidak ada kamar di sini untuk kalian !”, Wally menatap tajam sebagaimana mestinya.

“Tolonglah kami, penjaga yang baik. Ini istri saya, Maria, sedang mengandung dan perlu tempat untuk beristirahat. Pasti Tuan mempunyai sudut ruangan yang kosong untuk dia. Ia sangat lelah”.

Pada waktu itu, untuk pertama kalinya, penjaga penginapan melembutkan sikapnya dan menatap Maria. Dan saat itu terjadi jeda waktu yang panjang, cukup panjang sehingga membuat penonton menjadi sedikit gelisah, tegang dan malu.

“Tidak ! Pergi !”, bisik sang juru bisik dari sisi panggung. “Tidak !”, Wally langsung menirunya, “Pergi !”.

Dengan sedih, Yusuf merangkul pinggang Maria yang menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya dan mereka berdua berjalan pergi. Tetapi, sang penjaga penginapan itu tidak masuk kembali ke dalam penginapan. Wally berdiri di dekat pintu, mengamati pasangan yang bersedih itu. Mulutnya terbuka, keningnya berkerut karena ikut prihatin, dan tidak salah lagi, pelupuk matanya mulai penuh dengan air mata.

Tiba – tiba sandiwara Natal malam itu menjadi berubah total.

“Jangan pergi, Yusuf !”, teriak Wally, “Bawa Maria kembali”. Dan wajah Wallace Purling mengembangkan senyum yang cerah. “Kalian berdua bisa memakai kamar saya”.

…….

(oleh Dina Donohue dalam buku “Kisah Nyata Seputar Natal”)

About fantubilog

just a simple ordinary man... my simple motto is 'no body is perfect' ... ...

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: